Curcol…
Setelah membumihanguskan blogspot gue. Gue rasa tumblr akan menjadi sasaran gue berikutnya buat numpahin semua uneg-uneg gue. Dan ini semua pendapat gue
Kita mulai dari… Perasaan.
Banyak yang bilang wanita lebih mementingkan perasaan daripada logikanya. dan.. hey.., itu kodrat. Wanita diciptakan dengan perasaan berlebih daripada logikanya. Sedangkan pria kebalikannya. Beberapa bulan belakangan ini perasaan gue membuat gue merasa “jauh”. Jauh dari orang sekitar gue. Gue merasa perlahan tapi pasti mereka mulai menemukan sesuatu yang baru yang mungkin lebih menarik daripada gue, sesuatu yang sudah lama dan mungkin membosankan.
Sampailah pada titik gue berpikir, “hey, apakah orang di dunia ini hanya akan datang jika membutuhkan?” Membutuhkan disini punya banyak arti. Seperti, butuh “sesuatu” atau bahkan benar-benar butuh kehadiran kita. Bahkan gue sempat mengambil kesimpulan kalau “Manusia itu mahluk sosial. Mahluk yang selalu membutuhkan orang lain. Jadinya manusia itu berhubungan hanya ketika butuh”
Apakah salah pemikiran gue? Bisa iya, bisa ngga. Tergantung kalian memandang pernyataan ini dari sudut mana.
Nah bahkan dari penyataan gue diatas bisa menimbulkan konflik baru. Karna akan ada orang yang setuju juga tidak. Tapi konflik tersebut bisa muncul, kalau orang yang bertentangan memaksakan kehendaknya, merasa apa yang ada dipikirannya adalah yang paling benar. Hal ini termasuk menjadi pikiran gue beberapa bulan kemaren.
Kita diciptakan berbeda. Tidak ada yang sama satupun. Lalu, untuk apa memaksakan kehendak untuk sama? Ada hal yang bisa disamakan (dengan bantuan peraturan) namun adapula hal yang tidak bisa disamakan.
Menurut gue pribadi, sebuah pemikiran tidak bisa disamakan. Karna itu berlatarbelakang prinsip seseorang. Tapi pemikiran yang beda, bukan menjadi alasan untuk timbulnya konflik. Karena pemikiran tersebut masih bisa diperbincangkan untuk mencari solusi terbaik. Memaksakan sesuatu yang sebenarnya bukan “kita”, bagi gue suatu tindak kejahatan tersendiri.
Beda lagi yaa kalo untuk pemaksaan-untuk-menjadi-lebih-baik. Baik itu lebih sering dilihat dari norma-norma dan lebih terlihat apa itu “baik” apa itu “buruk”. Dan untuk menjadi baik disini adalah sebuah pilihan. Karna kita semua sebenarnya sudah tau apa itu baik.
Dan akhirnya…. dari semua pergolakan batin yang gue rasain, gue jadi belajar sesuatu yang baru. Hidup ga akan selalu seperti apa yang kita harapkan dan doa yang telah dipanjatkan, tidak akan mungkin terwujud dalam satu malam. Bisa saja yang terjadi sekarang adalah doa terdahulu yang pernah gue buat. Jadi, gue akan mencoba lebih menerima dan berpikir jauh lebih dewasa sama masalah-masalah yang ada. Hidup cuma sekali, kalau hanya diratapi dan disesali, mana nikmatnya? ;)